Mencintai Al-Quran

Oleh: Saiful Hadi Mengenal lebih dekat adalah cara untuk menumbuhkan cinta. Cinta itu tergantung seberapa jauh sudah mengenalnya, berawal da...

Oleh: Saiful Hadi

Mengenal lebih dekat adalah cara untuk menumbuhkan cinta. Cinta itu tergantung seberapa jauh sudah mengenalnya, berawal dari kenalan lalu temenan akhirnya jadian dan seterusnya berlanjut ke pelaminan. Untuk menumbuhkan cinta terhadap quran haruslah dengan cara mengenalinya secara mendalam. Mengenali quran adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan quran, seperti tajwid, tafsir, nahwu, sharaf dan sebagainya.

Mengenal Untuk Menumbuhkan Cinta

Quran dibuka dengan surat Al-fatihah yang selanjutnya diikuti oleh surat Al-Baqarah. Pembukaan surat Al baqarah dimulai dengan الم yang diistilahkan dengan huruf Muqatta'ah yaitu potongan-potongan huruf hijaiyah yang tidak membentuk kalimat tertentu. Sebagian ulama mengatakan hanya Allah Ta'ala yang memahami apa maksud dibalik itu semua. Ada juga ulama yang menafsirkan bahwa potongan huruf-huruf tersebut adalah untuk menantang mereka-mereka yang ingin menandingi quran. 

Melalui huruf tersebut, Seolah-olah Allah Ta'ala ingin mengatakan kepada para penentang quran agar membuat satu ayat saja seperti quran. Karena sebagaimana quran tersusun dari huruf-huruf hijaiyah dimana mereka juga berbicara serta bersyair dengan huruf-huruf yang sama, namun tidak berdaya untuk membuat sepotong ayat pun. Disinilah terlihat salah satu sisi kehebatan quran, gaya bahasa yang indah ketika dibaca serta sangat mendalam maknanya ketika dicoba cerna.

Berkenalan dengan quran adalah melalui membaca ayat-ayatnya, dan menghayati maknanya. Setiap selesai membaca satu ayat pasti ketagihan ingin membaca ayat selanjutnya biarpun kita tidak memahami artinya. Hal ini lantaran karakter ayat-ayat quran yang berirama disaat membacanya, sehingga mengetarkan melodi-melodi jiwa. Sejarah telah mencatat bagaimana Sayidina Umar bin Khatab insaf dan menjadi muslim, awal mulanya juga karena mendengar bacaan quran yang menggetarkan jiwa beliau.

"...Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzammil : 4)

Bahasa Arab sebagai Bahasa Alquran

Bahasa arab semakin berkelas karena AlQuran diturunkan dalam bahasa tersebut. Biarpun diturunkan dalam bahasa arab, bukan berarti sama seperti dengan bahasa arab pada umumnya, sebab belum ada satu makhluk pun yang sanggup untuk mencipta dan menandinginya. Bahkan banyak ayat yang menantang mereka yang tidak beriman untuk bisa membuat yang serupa dengannya walau satu ayat saja. 

Sebagaimana ilustrasi di atas, perbedaan harakat bisa mempengaruhi makna kandungannya. Seperti yang terjadi pada masa Abul Aswad Ad-Duali (w.688 M) dimana mushaf Al-quran masih belum dilengkapi dengan harakat seperti yang kita lihat sekarang, sehingga sangat rentan terjadi salah dalam membaca.

Ad-Duali pernah mendengar seseorang membaca ayat ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺮﻱﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ “Anna Allahabari'un-mina-l musyrikiin wa rasuulihi, (QS. At-Taubah : 3), seharusnya dibaca “Rasuluhu”. Jika diartikan akan sangat jauh berbeda. Bacaan pertama tersebut berarti “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya ...” Tentu saja arti tersebut menyesatkan, karena Allah tidak pernah berlepas dari utusanNya. Kalimat yang semestinya seharusnya berarti “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” Hanya karena satu harakat, tapi mengubah arti yang begitu banyak [1]

Itu baru masalah baris, belum lagi mengenai penafsiran isi kandungannnya. Dalam Al-Itqan fil Ulumil Quran[2], Imam As-Suyuti menuliskan, sesorang baru boleh menafsirkan quran jika telah menguasai 15 (lima belas) cabang ilmu, diantaranya Ilmu Lughah, Nahwu, Sharaf, Isytaq, Ma'ani, Bayan, Badi',  ilmu qiraat, ushuluddin, ushul fiqih, asbabun nuzul, Nasikh mansukh, fiqih, serta hadist. Sehingga slogan kembali ke Al-Quran dan Sunnah tidaklah semudah lidah berucap, tidak bisa sembarangan seenak perut mentafsirkan quran, apalagi hanya bermodalkan terjemahan saja, perlu diingat bahwa terjemahan bukanlah penafsiran.

Kita patut bersyukur karena generasi Awal Islam telah membukukan Al-Quran dan sudah dilengkapi dengan harakat seperti yang kita lihat sekarang. Andai quran masih dalam bentuk arab gundul, untuk bisa membacanya kita harus paham ilmu nahwu dan saraf, tahu yang mana Mubtada dan Khabar, fiil dan fail dan seterusnya. Salah satu faedah mempelajari Nahwu adalah supaya terhindar dari kesalahan dan memudahkan dalam memahami kalam Allah Ta'lala dan Rasulnya yang Mulia [3]. Tapi alangkah ironisnya, biarpun sudah berbaris namun masih saja ada yang sulit membaca Al-Quran, sebenarnya bukan tidak bisa tapi karena tidak mempelajarinya saja dengan sungguh-sungguh.

Untuk itu sebagai muslim kita perlu membenahi diri agar tidak buta terhadap Al-Quran. Apa jadinya jika terjadi kesalahan pembacaan baris dalam alfatihah, bisa-bisa shalat menjadi tidak sah. Terutama sekali bagi pemuda pemudi yang hendak menuju ke jenjang pernikahan. Gimana caranya kita hendak membina keluarga yang bersyariat jika baca quran saja masih belepotan. Sebab, yang namanya menikah bukan hanya untuk mereguk kenikmatan sesaat, melalui anda berdua akan lahir generasi penerus yang akan menggantikan kita nantinya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, selama nyawa masih melekat pada jasad maka masih membentang waktu untuk terus belajar dan bertaubat.

Catatan kaki
[2] Al-Itqan fil ulumil Quran, hal. 555
[3] syaikhalid - Aljurumiah


  • [accordion]
    • Tentang Madinatul Aman
      • Madinatul Aman merupakan lembaga dakwah sosial yang terletak di Gampong Dham Pulo Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Balai Pengajian ini didirikan sebagai langkah konkret wujud refleksi keimanan kepada ayat Allah:

        “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyeru (berbuat) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 110)

        Selengkapnya [profil  ##download##]
Nama

Galery,3,news,2,Pengajian,4,Slide,13,Tazkirah,18,
ltr
item
Madinatul Aman: Mencintai Al-Quran
Mencintai Al-Quran
https://1.bp.blogspot.com/-_OVfbGEmUWM/YCSdJ9xbDUI/AAAAAAAAKKM/umql_MgQ99MF_GOvRHB68IL3reTW5W4bQCLcBGAsYHQ/s16000/MENCINTAI%2BALQURAN.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-_OVfbGEmUWM/YCSdJ9xbDUI/AAAAAAAAKKM/umql_MgQ99MF_GOvRHB68IL3reTW5W4bQCLcBGAsYHQ/s72-c/MENCINTAI%2BALQURAN.jpg
Madinatul Aman
https://www.madinatulaman.com/2021/02/mencintai-al-quran.html
https://www.madinatulaman.com/
https://www.madinatulaman.com/
https://www.madinatulaman.com/2021/02/mencintai-al-quran.html
true
2538030755789007545
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content